Ditilang (lagi)


AQSOL MADINAH – Entah sudah berapa kali saya ditilang pak Polisi karena melanggar peraturan lalulintas. Ada yang ditilang karena tidak punya SIM, SIM-nya hilang dan lain-lain. Anehnya, saya lebih sering bertemu dengan polisi lalu lintas yang sedang melaksanakan razia ketika belum punya SIM atau SIM saya sedang tidak ada. Hmm.. mungkin memang sudah semestinya seperti itu.

Hari ini saya sedang sedikit murung dan kurang bersemangat. Pasalnya, saya masih punya beberapa masalah yang belum berhasil saya pecahkan. Saat pulang sekolah, saya pun mengendarai motor saya dengan pelan (biasanya setengah ngebut). Ketika melewati lampu merah, saya lihat di ujung jalan ada dua orang Polisi. Polisi pertama berdiri disamping motornya berada di sebelah kiri jalan dan polisi kedua berada di tengah jalan. Saya pun memilih untuk lewat sebelah kiri. Dengan pertimbangan, jika saya lewat sebelah kanan maka saya bisa diberhentikan oleh polisi yang ada ditengah bahu jalan.

Akhirnya saya bisa melewati kedua polisi tersebut. Tadinya saya sempat deg-degan karena pelat nomor saya sudah tidak berlaku dan SIM saya yang hilang belum diurus-urus. Sekarang saya pun merasa lega. Tapi rasa lega itu tak bertahan lama ketika saya mendengar suara motor besar disebelah kanan saya. Ternyata polisi yang berdiri disamping motornya mengejar saya, dengan mengucapkan salam selamat siang pak Polisi tersebut meminta saya untuk berhenti. Saya pun menghentikan laju motor saya dengan pasrah.

Hal pertama yang diminta oleh sang Polisi adalah STNK. “STNK-nya belum diperpanjang ya pak?” tanyanya kepada saya, saya pun menjawab “Sudah pak, tapi pelatnya belum diganti”, jawab saya dengan pede. “Boleh lihat SIM-nya pak?” tanyanya lagi, “SIM-nya tidak ada pak” jawab saya dengan pasrah. “Ikut saya pak!” perintahnya, lalu kemudian memutar arah dan kembali ke tempatnya berdiri. Saya pun mengikutinya dengan lemas.

Akhirnya saya sampai di sebuah warung dengan halaman yang cukup luas. Di halaman itulah banyak motor diparkir, nampaknya motor-motor tersebut adalah motor yang bermasalah. Ternyata, selain saya banyak juga pengguna motor lain yang kena tilang. Ada yang sedang protes, ada yang minta bayarannya dikurangi dan ada pula yang menampakkan wajah tidak terima karena telah ditilang.

Sebenarnya ketika itu saya sempat kepikiran untuk meminta surat tugas kepada pak Polisi. Tapi saat itu sangat tidak ada selera untuk berdebat, ditambah lagi nampaknya polisi-polisi lain yang ada disitu sedang emosi menghadapi pengendara yang nakal. Akhirnya saya dipanggil dan disuruh duduk di bangku warung, tepat disampingnya. “Sidang aja ya pak?” ujarnya, kemudian saya menjawab iya. Oya sebelumnya pak Polisi itu meminta KTP saya untuk menulis nama di kertas tilang. Setelah itu saya hanya menanyakan kapan tilangnya, kemudian pergi. Tapi sebelum saya pergi pak Polisi memanggil saya lagi “pak ini uang bapa tadi jatuh”, sambil menyodorkan uang Rp 20.000,-. Wah, ternyata baik juga nih pak Polisi, ujar saya dalam hati.

Saya pun pulang dengan membawa surat tilang. Ketika sampai rumah istri saya membaca surat tilang tersebut, dia langsung emosi ketika melihat nama pak Polisi yang tertera disana. “Si F***** kan yang nilang anaknya Bu H*** kemarin!” kata istri saya. Ternyata pak Polisi yang menilang saya cukup terkenal di kalangan ibu-ibu. Polisi tersebut terkenal sering menilang pengendara roda dua di daerah kami.

Meskipun demikian saya tidak terlalu peduli, kejadian tilang ini menjadi pelajaran berharga bagi saya dan dalam waktu dekat saya akan mengurus SIM saya yang dulu sempat hilang. Anda juga bisa membaca cerita saya tentang cara membuat SIM hilang.

Terimakasih.

Comments

Popular posts from this blog

Menjawab Komentar Orang Kristen Tentang Al-Maidah Ayat 51

5 YouTuber Indonesia Paling TOP 2015 dan Penghasilannya

Manfaat Jumlah Subscriber untuk Youtuber