Baik Saja Tidak Cukup (Terus?)

Baik saja tidak cukup, harus konsisten dalam kebaikan


Bismillahirrahmaanirrahiim..

Banyak orang pesimis menemukan orang baik di zaman now. Mungkin Anda juga demikian.

Padahal, kalau kita lebih peka, lebih fokus pada kebaikan dan lebih sering merenung maka kita bisa menemukan banyak sekali orang baik di sekitar kita.

Jangan jauh-jauh deh.. di Rumah.

Ada orang tua kita yang siap puasa asal anaknya bisa makan. Ada saudara yang pasti akan menolong ketika kita kena musibah, misalnya kecelakaan.

Di luar rumah juga sama.. jangan jauh-jauh! Tetangga.

Ada tetangga saya yang suka bersih-bersih, kadang depan rumah saya juga di bersihkan. Ada yang rajin keliling menjaga keamanan (karena pernah kemalingan). Ada yang dermawan, kalau bacakan pasti jadi donatur. Ada yang buka warung, jadi kalau perlu apa-apa tidak perlu ke jauh.

Mereka adalah orang baik.. tapi sering terabaikan karena kita lebih fokus pada keburukan mereka. Perlu diakui, topik negatif memang lebih asik dan keburukan memang sulit dilupakan.

Tapi, jika Anda ingin menjadi orang baik maka lupakanlah keburukannya dan ingatlah (fokus) kebaikannya.

Selain di rumah dan tetangga, tentunya orang-orang baik juga bisa ditemukan di banyak tempat lainnya. Seperti tempat kerja, jalan raya, pasar, masjid dan lain-lain. Hanya saja mereka sering terlihat buram karena kita hanya fokus pada keburukan.

Saya yakin Anda juga termasuk orang baik. Sangat tidak mungkin jika Anda tidak pernah berbuat baik.

Anda tentu pernah berbuat baik, kepada orang tua, saudara, teman, tetangga atau mungkin orang yang belum Anda kenal.

Namun, baik saja tidak cukup. Terus? Perlu ditambahakan kata “KONSISTEN”.

Konsisten dalam kebaikan artinya kita senantiasa berbuat baik dimanapun, kapanpun, kepada siapapun dan dalam kondisi apapun.

Bagaimana jika ada seorang teman yang menyakiti hati kita? Dia sudah berbuat buruk kepada kita, buat apa kita berbuat baik kepadanya? Sah-sah saja dong kalau kita membalas perbuatan mereka dengan yang serupa?

Nah, itu namanya tidak konsisten dalam kebaikan.

Jika kita mau konsisten dalam kebaikan, maka kita akan balas keburukannya dengan berbuat baik kepadanya. Walaupun dia sudah menyakiti kita atau mendzolimi kita.

Konsisten dalam kebaikan juga berarti tidak pernah melakukan keburukan. Karena kalau sudah melakukan keburukan, maka dia sudah tidak konsisten.

“Perbuatan Buruk Itu Seperti Virus”

Ini yang BAHAYA!

Ketika ada orang yang menyakiti kita, kita kemudian balas menyakitinya.

Renungkan!

Kalau kita juga menyakiti dia, apa bedanya kita dengan dia? Sama-sama orang yang menyakiti (berbuat buruk).

Yang sangat perlu di garis bawahi adalah efek virus keburukannya.

  1. Setelah kita membalas, dia sakit hati 
  2. Setelah dia sakit hati dia akan buat kita sakit hati lagi, 
  3. Kita tidak mau kalah dan kita balas lagi, 
  4. Dia balas lagi dan kali ini membawa keluarga atau temannya. 
  5. Kita juga ikutan seret orang lain ke masalah kita
  6. dst

Kapan masalahnya selesai?

Bukankah akan lebih indah jika kita langsung memaafkan orang menyakiti kita? Setelah itu masalah selesai. Kita bisa hidup tenang. Fokus ke keluarga dan kerjaan.

Kadang memang masalahnya tidak sederhana. Tapi konsep ini bisa menjadi landasan. Ketika kita tenang, hidup kita akan jauh lebih produktif, lebih bahagia dan lebih mudah mencari ridha-Nya.

Ingat!
Fokuslah pada kebaikan, jangan keburukan..
Konsistenlah dalam kebaikan, jangan tergoyahkan..

Baik itu biasa, konsisten dalam kebaikan itu baru LUAR BIASA!

Click to comment